Postingan

Senandung Cinta Rumaisha 11

 3 bulan sudah, Rumaisha menyandang status ibu rumah tangga sekaligus mahasiswa. Kehidupan berubah total, kesibukan tak pernah behenti menghampiri. Rasa lelah seringkali melanda, kadang pula tangis pecah seketika. Dia lelah dan ingin menyerah. Ah, rupanya kata hanya sebatas kata. Saat sesorang mampu berucap, belum tentu mampu bertindak. Detik ini, Rumaisha duduk berselonjor di depan layar kaca. Tanpa mengganti pakaian, tas pun tergeletak begitu saja. Dia melamun sembari menahan lelah fisik dan otaknya. "Duh, kok Maisha nggak kuat ya." Dia kembali menopang dagu, berpikir sesuatu, "sebentar lagi Kang Ibra pulang, belum masak. Aaah, Umma, Maisha capek." Sejenak, gadis itu menyandarkan kepalanya di atas dudukan sofa. Kantuk itu begitu hebat menyerangnya hingga tak sadar memejamkan mata. Jam 5 sore, sosok pria masuk dengan guratan lelah. Hendak melangkah lebih jauh, binar matanya redup seketika melihat sang Ahza tergeletak dengan bebannya. Namun, ego itu muncul ...

Senandung Cinta Rumaisha 10

 "Buya, minta beli boneka itu." "Buya, besok jalan-jalan ke mall ya." "Umma, tadi ica lihat gaun bagus sekali. Ica pengen." "Umma, beli ice cream lagi ya." Ah, Rumaisha kini tengah menatap foto kecilnya. Tampak jelas dalam potret, gadis berkuncir dua berada di antara Umma dan Buya. Celoteh ringan ala Ahza terngiang-ngiang di telinga. Segala yang Ia minta bisa terwujud dengan mudah, segala yang Ia rencanakan dapat terlaksana seketika. Namun, hidup adalah rotasi. Kini, sosok anak wanita sholehah pecinta Rabiah itu berada di titik terendah. Ah, bukan terendah, karena nyatanya gadis itu masih jauh lebih beruntung di banding Mereka yang harus menerjang panas dan hujan seharian. "Umma, Buya, ridhoi Ica kecilmu ini. Semoga Doa Umma Buya selalu meyertai langkahku." Tepukan pada bahu mengagetkannya. Gadis itu seketika mengusap bulir bening di pipinya. Dia menoleh dengan senyum manisnya, menahan rindu dan tangisnya bersamaan. ...

Senandung Cinta Rumaisha 9

 Meski menurut orang Indah, sejatinya kehidupan akan terus bergerak dan berputar. Ada saatnya di atas pula di bawah. Begitupun dalam bidik rumah tangga, bahagia bisa muncil dan sirna kapan saja. Everything depends on you. Ya, masing-masing adalah Kita yang mengendalikannya, bukan Mereka. Ahza Rumaisha bersama suami yang menyandang nama indah, Muhammad Ibrahim, kini telah merenung akan kehidupan di depannya. Jika kemarin keduanya diam, tidak untuk sekarang. Ahza dam Ibra harus mampu bergerak tanpa embel-embel pewaris tunggal. "Kang, apa yakin dengan keputusan itu?" "Yakin seyakin-yakinnya. Dengar, Aku ini laki-laki. Tidak mungkin terus bergantung pada Umma dan Buya," diam sejenak, "lagi pula, Aku sudah terbiasa mandiri sejak kecil." Mendengar itu, Rumaisha mengembun dan mendekat ke arahnya, "maaf, jangan bersedih!" Gadis itu memegang jemari suaminya tuk menguatkan, "Ahzamu ini akan ikut kemanapun." Ah, Ibrahim tak tahan dengan...

Senandung Cinta Rumaisha 8

 Keep going! Never stop even each step will be much harder! Masa putih abu telah usai, namun perjuangan belum usai. Mungkin kala itu menghabiskan banyak malam hanya untuk merampungkan tugas dan hafalan, namun esok akan ada siang dan malam panjang untuk berjuang. See, Ahza Rumaisha telah berdiri dengan anggunnya di atas podium dengan menenteng benda gold di tangannya. Gadis periang yang tak mau berhenti berjuang kini telah menang. Dia tersenyum indah, mempersembahkan kata dan ungkapan rasa untuk mereka yang Ia sayangi. Gema sorakan dan tepuk tangan memenuhi aula. Semua mata tertuju padanya. Ah, Rumasiha sungguh beruntung akan semua itu. "Sayang, selamat ya!" "Peri kecilnya Buya hebat. Selamat, Nak!" "Trimakasih, Umma, Buya." Sejenak, mata Maisha liat ke segala arah. Ada sosok yang Ia nantikan hadirnya. Namun, entah dimana sosok itu sekarang. "Cari Kang Ibra?" Buya mengagetkannya. "Hehe, Buya kok tau sih." "Cyee, ana...

Senandung Cinta Rumaisha 7

 Melegakan, seolah habis terperangkap dalam sangkar, kini Rumaisha bisa bernapas bebas. Total 1 minggu berkutat dengan imtihan di sekolah serta pondok, membuat otaknya mendidih seketika. Namun, tidak untuk sekarang. Detik ini, Dia berdiri ditemani sang suami, memandangi indahnya aliran sungai. Suguhan cokelat dingin dan beberapa camilan menambah hawa kebersamaannya. Ya, Ibra menjanjikan liburan ringan setelah imtihan usai. "Berasa pacaran ya, Kang?" "Uhuk!" Ibrahim tersedak mendengar penuturan istrinya. "Kenapa, Kang?" "Nggak apa-apa. Heran aja sama Ahza ini, ngomongnya selalu bikin orang jantungan." Ucapnya menahan tawa. "Lha, kan emang bener, Kang. Pacar halal, ya nggak?" Ibrahim menyentil keningnya gemas, "bocil, mikirnya pacaran aja." "Sudah besar, lho kang. Sudah jadi istri orang malah." "Diem, Sha! Mau, suamimu tersedak lagi?" Obrolan yang menyenangkan, bukan? Entahlah, dunia Ibrahi...

Senandung Cinta Rumaisha 6

 Selamat pagi dunia! Mentari telah bertengger dengan senyum khas dan sinar keemasannya. Dunia, tak akan berwarna tanpanya. Tiap insan mengidamkannya. Sosoknya selalu dipuja, dikejar, bahkan diabadikan saat hendak tenggelam dalam lautan jingga. Mentari, ciptaan Tuhan yang membersamai langkahnya, mengais ilmu jua merajut beribu kisah. Ahza Rumaisha, berdiri di tengah gerbang sekolah dengan senyum mengembang. Tak terbayangkan sebelumnya, minggu yang Ia lewati kini menjadi minggu terakhir sebelum moment mendebarkan tiba. "Alhamdulillah. Semoga berkah, ya Allah." Saat hendak melangkah masuk, sosok pria memanggilnya pelan. "Sha, sini!" Rumaisha memandang sekitar hingga keadaan aman. Tak lama, dirinya melangkah ke ruangan sebelah toko buku. Dia mengendap masuk, takut jika ada yang diam-diam memperhatikannya. "Ada apa, Kang?" "Minggu ini pelajaran efektif terkahir, kan?" Gadis itu mengangguk. "Berarti minggu depan ujian?" ...

Senandung Cinta Rumaisha 5

 Menikah itu tak hanya tentang keromantisan melainkan kebersamaan tuk meraih ridhoNya. Sebagai sosok pemuda biasa, Ibrahim berusaha ikhlas menitih surga bersama meski gadis itu baru masuk dalam hidupnya. "Sha, bangun! Tahajjud dulu!" Rumaisha mengerjap dan mendapati Prianya sudah rapi dengan koko birunya. Gadis itu tampak memikirkan sesuatu. Sesaat, Dia sadar akan satu hal. "Semalam Kita tidur berdua ya, Kang?" "Kenapa?" Gugup, kelabakan, itu yang dirasakan. Rumaisha segera bangkit menuju kamar mandi, wudlu sekaligus membersihkan diri. Tibalah melaksanakan 2 rakaat sunnah bersama. Gadis itu menangis seketika dalam takbirnya. Rasa haru bersorak riuh dalam dadanya. Andai bisa, Ia ingin menghentikan detik ini tuk 1000 tahun lamanya. "Kenapa? Nangis?" Dia hanya menggeleng dan memandang Pria yang telah sah menjadi imamnya. "Coba sini!" Rumaisha menurut, mendekat ke arahnya. Tangannya mengusap lembut sisa air mata yang mene...